BERKISAH ATAS KEBERSAMAAN DALAM PERJUANGAN

Merasakan tahap demi tahap arus kehidupan. Berenang dengan melawan arus lalu melawan untuk mendapat kesegaran yang lebih. Merasakan kokohnya pemikiran yang dibalut al haq. Suatu yang sangat jarang dirasakan oleh manusia yang tengah menikmati ratapannya atas hidup materialistis.
Tapi ada hal yang mesti saya ceritakan kepada mereka, bahwa apa yang saya rasakan sekarang tak sama dengan anggapannya. Bahwa hidup bukan Cuma menikmati keindahan tetapi ada perjuangan yang tak biasa. Tak biasa bagi siapa saja yang menginginkan itu. Bukankah kita pun hadir di dunia ini dengan cara yang luar biasa. Lalu mengapa kita memilih untuk hidup layaknya arung jeram yang terombang ambing oleh arus. Situasi semacam itu yang mesti juga dirasakan oleh banyak orang ketika melihat dengan jeli masalah kehidupan.

Masalah kehidupan bukan hanya karena keberadaannya, tetapi berbicara sikap dan inisiasi untuk mengatasinya. Sesuaikan diri dengan keadaan bersama cara pandang yang tidak mengikut mayoritas manusia. Sehingga kau mampu mengendalikan diri dan lingkungan sekitarmu. Saya bukan mau menceramahi tetapi berusaha bercerita keadaan sebenarnya. Dan itu yang saya rasakan saat ini. Suka atau tidak, kau juga harus merasakannya. Namun bila itu masih memberikanmu kesempatan hadir menjadi bagian darinya.

Sudikan dirimu dan tak perlu sungkan. Walau sikapmu terus keras, dan itu wajar bagi yang awam dan baru. Ingat itu hanya sejenak, karena situasi akan menentukannya. Bersama terus dan konsisten untuk terus bersama. Sehingga kau bisa merasakan bagaimana bercerita dengan kisah yang lebih heroik dari ceritamu yang dulu. Dan ini cerita dariku yang bisa kau tiru atau lebih mengembangkannya menjadi lebih bermakna untuk dirimu.

Tak semestinya kita mengatakan percuma, karena bahasa negatif bukan jalan keluar untuk bersikap. Lebih baik menjalani dan belajar untuk memahami. Sertakan hati dan potensi, lalu melangkahlah dengan pasti. Lalu kisahkan ceritamu atas pemikiran dan perjuanganmu.

Saya hanya berusaha bercerita denganmu. Agar saya juga bisa memetik rasa demi diri saya sendiri juga kelak. Tapi semuanya kita bisa jalani bersama dengan perjuangan yang sama pula. Perkenankan diri menjamah kata demi kata untuk merayumu dalam lingkaran kehidupan yang fana dan menarikmu keluar darinya.

Tak perlu kau susah menunggu, karena saya layaknya bus sekolah yang siap antar jemput dalam memahamkanmu dalam kisah indah perjuangan. Semoga ini langkah pertama untuk bersamamu menapaki perjuangan ini. Ratapi itu lalu bermuhasabahlah.

Jangan kau sisakan waktu untuk menyia-nyiakan diri. Karena kereta ke surga tidak mau menunggumu. Waktu kita terbatas. Maka pilihlah secepatnya. Sempurnakan ceritamu dalam perjuangan hidup dengan pemikiran ini. Pemikiran yang hanya mengatasnamakan Allah di dalamnya.

Iklan

PETIK RASA DARI KETIDAKTENTUAN CUACA

PETIK RASA DARI KETIDAKTENTUAN CUACA

Bentar hujan bentar panas. Begitulah sebuah kalimat singkat sebuah iklan berkata. Itulah yang bisa kita rasakan bersama sekarang. Di saat menikmati bagaimana hangatnya jam 9 pagi, dikejutkan tiba-tiba dengan hujan deras. Jam 12 hingga jan 1 siang sempat merasakan panas lalu sentak badai angin datang dengan disusul oleh hujan begitu deras hingga malam hari. Rasa dingin yang menusuk sampai tulang ketika puncak malam datang. Bahkan ahli cuaca seperti di badan meteorologi dan geofisika saja kini terkadang salah dalam meramalkan cuaca.

Dalam kondisi seperti ini manusia manapun harus berpikir lebih prepare. Menyiapkan segala kebutuhan untuk mengatasi segala upaya yang dapat menghalangi aktivitas berjalan hanya karena kondisi cuaca. Ada hikmah untuk belajar lebih siap atas semua kondisi.

Tapi bukan untuk mengkritik ketetapan Allah atas cuaca yang ada. Karena semua tahu ini bagian dari skenario Allah atas manusia dan alam semesta. Dan pasti itu baik adanya. Tetapi yang ingin saya tampilkan adalah suasana manusia baik hati maupun pemikirannya sekarang.

Pada dasarnya dengan kehidupan yang begitu bebas saat ini. Apa saja dapat membuat orang bisa berubah-ubah. Bahkan hingga persolan sepele sekalipun. Kasus-kasus kriminal bisa menjadi acuannya. Ataukah kita terkadang tidak menduga dengan hal sebaliknya, tiba-tiba saja ada sosok manusia yang berubah 180 derajat hanya karena mengenal sebuah pemahaman baru. Baik berubah ke arah positif maupun lawannya.

Kebebasan memberikan pengaruh ketidak jelasan kepada manusia dalam bertindak dan mengambil keputusan. Acuannya selalu situasi dan realitas. Padahal ia akan selalu tidak konsisten jika terus memberikan ruang di otaknya untuk menempatkan hal-hal tersebut. Ketidakjelasan itu pasti berdampak pada situasi yang tidak jelas pula. Terkadang kita menunggu situasi yang sebenarnya bagi kita genting. Jelas bagi kita situasi itu. Tetapi jika bersua dengan ciri-ciri ketidak jelasan, maka seakan-akan yang mereka hadapi atas masalah kita tidak terasa seperti apa yang kita rasakan.

Dan beberapa kasus yang terjadi juga bisa karena ketidak konsistenan seseorang atas keputusannya. Bisa jadi itu berdampak luas pada orang banyak. Dan bisa jadi pula ia tidak sadar telah membuat orang merasakan dampak dari ketidak jelasan.

Situasi menjadi berbeda ketika ia punya standar pemahaman yang benar. Dan itu memang tidak didapatkan dengan singkat. Tetapi sekali lagi kekonsistenan atas keinginan besar untuk berubah dan mendapatkan pemahaman yang luruslah yang dapat mengarahkannya menjadi lebih baik.

Ya pemahaman. Itulah dasar setiap orang bergerak dan memperjelas arah perbuatannya. Pemahaman menentukan ia mampu menjalankan serta situasi yang ia harapkan. Tapi sayangnya ia harus berjibaku dengan situasi yang berbeda dengan pemahaman yang menajam di benaknya. Karena kebebasan memberikan tempat untuk orang berbeda segala fulgar. Padahal beda pemahaman apalagi hal yang fundamen sifatnya adalah awal dari sebuah ketidak harmonisan. Ujung-ujungnya kekerasan dan turunan-turunannya.

Kebebasan memberikan kesempatan antara benar dan salah menjadi satu. Ini utopis. Sekalian saja tempatkan abu-abu di dalamnya. Dan memang cerita kebebasan menginginkan itu. Pemahamannya tidak lurus lagi. Seperti tarikan garis gambarku waktu masih mengerjakan tugas bestek sewaktu maba dulu. Dan pemahaman itu cukup diterpong dari kejauhan. Karena dampaknya kita rasakan kemana-mana.

Sudah menjadi hal yang lumrah ketika kita melihat di hadapan kita sekalipun ada yang berani melakukan tindakan senonoh dan semacamnya lah. Dan kita bagaikan konsumen yang tertipu dengan penjual langsat secara halus, 10 ribu = 4 kg.

Langkah yang harus ditempuh kini dengan mencoba membuka cakrawala berpikir manusia dengan menanamkan pemahaman yang mendasar lewat intensitas dialektika. Kemudian mencoba menggerakkannya dalam situasi yang mungkin akan membuatnya terkaget-kaget. Bahwa itulah sekarang.

Selai itu kita juga mesti mencoba hal-hal yang disitu membutuhkan keberanian yang lebih. Apalah itu, yang pasti, jangan lebih berani dari kaum kebebasan. Karena terkadang keterlewatan dalam bertindak juga dapat membunuhmu.

Perjuangan kini menuai beragam macam tantangan. Terutama kaum muda. Karena suatu saat nanti ia akan juga menjadi kaum tua. Nah kita ketahui bagaimana perawakan yang sebenarnya ditampilkan kaum muda. Apakah itu akan tetap bertahan setelah masa muda itu perlahan meninggalkannya.

Kondisi cuaca itu kembali mengingatkan kita akan pentingnya menarik hikmah dari situasi, terutama dari keadaan kita sekarang. Lihatlah diri kita sendiri, apakah telah keluar dari kondisi yang mengancam kekonsistenan kita.

Ada ketakutan sedikit ketika merasakan bagaimana beragam cerita mengisi kepala. Gaung-gaung pesimis juga biasa penulis dengarkan. Kalau sudah seperti itu, pertama adalah cari mereka yang mampu mengangkat setiap jatidirimu kembali. Yang pasti harus dari pemahaman kita dulu. Lalu kedua dekatkanlah diri pada yang tahu situasi dan tahu untuk memberitahu. Terutama Sang Maha Tahu.

Semua adalah dinamika, yang mungkin tak semua harus kita renungkan dalam bayang-bayang kepahitan. Tapi anggap itu kenikmatan yang bisa saja berubah rasanya manisnya. Kadang benar-benar manis, kadang berkurang. Menyikapi, mengupayakan diri lalu menyerahkan semua pada kerihoan Ilahi. Sampai disini seharusnya kita sudah mampu mengabaikan kegalauan yang lahir dari situasi yang tak jelas hari ini.

Selamat untuk menjadi peserta-peserta kehidupan yang tidak akan larut dalam cuaca yang tak menentu.

HARGA BBM NAIK, GANTI REZIM GANTI SISTEM

HARGA BBM NAIK, GANTI REZIM GANTI SISTEM
(Muhammad Rahmani, Sekjen Gerakan Mahasiswa ”GEMA” Pembebasan Sulselbar)

Tepat di bulan april nanti, pemerintah memulai rencananya untuk menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Lewat Undang-Undang (UU) Nomor 22 tahun 2011, pemerintah kita mencoba menghilangkan sedikit demi sedikit kewajiban mengayomi rakyatnya. Betapa tidak, kebijakan ini mau tidak mau akan makin menyengsarakan rakyat. Sekarang saja harga segala macam kebutuhan masyarakat terus naik. Kita bisa bayangkan bagaimana bila subsidi BBM dibatasi? Anehnya pemerintah kita berdalih dalam rangka menghemat APBN yang dibebani oleh subsidi BBM. Ada pula anggapan mereka bahwa subsidi BBM tidak tepat sasaran yang banyak dikonsumsi oleh kendaraan milik pribadi. Padahal Data Susenas 2010 oleh BPS menyebutkan, 65 % BBM bersubsidi dikonsumsi oleh kalangan menengah bawah dengan pengeluaran per kapita di bawah US$ 4 dan kalangan miskin dengan pengeluaran per kapita di bawah US$ 2. Sementara itu, 27 % digunakan kalangan menengah, 6 % kalangan menengah atas dan 2 % kalangan kaya (www.Hizbut-Tahrir.or.id/Pembatasan BBM Bersubsidi Demi Kepentingan Asing.htm.) Tapi kontras terlihat ketika dalam rangka melaksanakan niat mereka untuk berhemat, pemerintah malah menggemukkan diri dengan adanya penambahan wakil menteri yang mau tidak mau pasti menyedot APBN. Padahal kinerjanya tidak jauh berbeda. Belum lagi fasilitas-fasilitas yang akan diperoleh pejabat-pejabat itu. Setali tiga uang, anggota dewan yang mengesahkan UU yang tidak berpihak kepada rakyat itu juga berfoya-foya dengan uang yang katanya akan dihemat. Pembangunan toilet mereka saja mencapai 2 milyar, renovasi ruang rapat banggar menembus angka 20 milyar. Kita juga bisa melihat bagaimana proyek-proyek siluman yang mengeruk APBN serta uang studi banding (baca: plesiran) mereka.

Fakta yang lain pula bahwa beban utama dari APBN kita adalah pembayaran utang beserta bunganya yang mencapai 170 trilyun, tapi pemerintah malah menambah surat utang Negara sebesar 134 trilyun dan utang luar negeri 54 trilyun. Mengapa bukan pengeluaran-pengeluaran ini yang dihemat. Mengapa bukan gaji-gaji pejabat atau gaji presiden sendiri yang dihemat. Mengapa harus kebutuhan pokok rakyat yang dihemat? Lalu apa guna mereka menjadi pejabat bila hanya menghabiskan uang yang ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Padahal rakyat terus ditekan untuk senantiasa membayar pajak sebagai ”kewajiban” warga negara.

Kenaikan harga BBM ini juga dipicu oleh harga minyak dunia, tetapi anehnya yang punya minyakkan adalah Indonesia. Lalu mengapa mengikut dengan harga minyak dunia. Logikanya, Indonesia yang jadi penjual sebagai pemilik utuh minyak itu, tetapi yang menentukan harga adalah orang lain. Anehnya lagi pemerintah mengiyakan hal tersebut. Akhirnya cost minyak dunia menjadi beban pemerintah. Ini tak lepas dari LOI tahun 2000 yang disepakati dengan IMF yang memberikan acuan harga minyak agar bercermin pada harga minyak dunia.

Pemerintah sebenarnya tahu bahwa kenaikan BBM ini akan merugikan rakyat, tapi anehnya masih juga dilakukan. Buktinya mereka menyiapkan BLT jenis baru dengan nama baru BLSM. Alasannya supaya tidak terjadi inflasi. Belum lagi mental korup dari pejabat-pejabat, yakin saja uang ini tidak akan secara merata terbagi.

Pemerintah kita saat ini layaknya perusahaan besar yang menjual banyak aset-aset Negara, termasuk blok-blok minyak. Proses unbundling yang dilakukan dalam tubuh pertamina, semakin memperlihatkan itu. Bayangkan dalam setiap tahapan dari hulu hingga hilir pemerintah memberikan kesempatan untuk swasta bermain di dalamnya. Mau tidak mau cost yang akan dikeluarkan ketika penentuan harga di hilir, pasti makin naik. Adanya kebijakan kenaikan harga BBM di sektor hilir ini, makin membuktikan bahwa pemerintah menjadi pengusaha yang menjual bangsanya.

Pemerintah kita lebih takut kepada asing dan pemilik modal ketimbang tanggung jawabnya sebagai penguasa kepada rakyatnya. Dan inilah penguasa kita yang terus mengkampanyekan kesejahteraan rakyat, tetapi buktinya NOL Besar. Hal itu pati atas perintah dari Presiden kita Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ia lebih tunduk pada kebijakan global ketimbang rakyat yang memilihnya. Maka tidak ada lagi kepercayaan kepadanya. SBY tidak layak lagi memimpin Indonesia lebih lama. SBY juga seperti itu karena sistem yang ia jalankan memang telah rusak. Demokrasi dengan seabrek masalahnya telah membuat rakyat Indonesia hingga puluhan tahun tidak merasakan kesejahteraan. Indonesia hingga hari ini tidak merdeka secara utuh. Tidak ada solusi selain mengganti rezim dan mengganti sistem secara menyeluruh.

Demokrasi Meniscayakan terjadinya liberalisasi migas yang dilakukan oleh pemerintah kita hari ini. Persaingan ekonomi global membuat pemerintah kita harus membatasi subsidi BBM ini agar asing dengan perusahaan-perusahaan minyaknya dapat menguasai minyak di Indonesia dari sektor hulu hingga hilir. Menteri ESDM waktu itu, Purnomo Yusgiantoro, menegaskan dalam pernyataan persnya (14/5/2003): “Liberalisasi di sektor minyak dan gas akan membuka ruang bagi para pemain asing untuk ikut andil dalam bisnis eceran bahan bakar minyak” (www.Hizbut-Tahrir.or.id/Pembatasan BBM Bersubsidi Demi Kepentingan Asing.htm.). Liberalisasi merupakan usaha-usaha sistem Kapitalisme dalam menjalankan perekonomiannya. Kapitalisme terbukti hanya mensejahterakan segilintir orang saja. Kita tak mungkin lagi percaya dengan jargon-jargon penguasa yang berkata atas nama rakyat. Karena rakyat yang dimaksud adalah para pemilik-pemilik modal, pengusaha-pengusaha besar serta kalangan elit lainnya. Dan kepentingan merekalah yang diakomodir bukan rakyat. Kapitalisme adalah sebuah sistem yang meniscayakan ini terjadi. Maka dampak yang ditimbulkan oleh penerapan sistem kapitalisme adalah ketimpangan kondisi masyarakat. Ketidakadilan, kebodohan, kemiskinan. Dimana yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Tentu kita mesti beranjak dari sistem yang tidak peduli akan nasib rakyat secara keseluruhan ini. Kemudian beralih kepada sistem yang benar-benar tahu bagaimana mensejahterakan umat manusia. Sedangkan kita ketahui bersama hanya Allah-lah yang paling tahu bagaimana membuat umat manusia hidup dalam kemakmuran. Serta mengikuti teladan kita Rasulullah SAW ketika beliau mengatur kehidupan umat manusia. Dalam sabdanya : Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: padang rumput, air dan api (HR Abu Dawud dan Ahmad). Kata an-nâr (api) mencakup semua jenis energi termasuk bahan bakar minyak. Dalam sabdanya yang lain,“Sesungguhnya, Abyad bin Hammal mendatangi Rasulullah saw, dan meminta beliau saw agar memberikan tambang garam kepadanya. Ibnu al-Mutawakkil berkata,”Yakni tambang garam yang ada di daerah Ma’rib.” Nabi saw pun memberikan tambang itu kepadanya. Ketika, Abyad bin Hamal ra telah pergi, ada seorang laki-laki yang ada di majelis itu berkata, “Tahukan Anda, apa yang telah Anda berikat kepadanya? Sesungguhnya, Anda telah memberikan kepadanya sesuatu yang seperti air mengalir (al-maa’ al-‘idd)”. Ibnu al-Mutawakkil berkata, “Lalu Rasulullah saw mencabut kembali pemberian tambang garam itu darinya (Abyad bin Hammal)“. [HR. Imam Abu Dawud]

Layaknya tambang garam tadi, minyak juga merupakan hal milik umum, jadi negara hadir dalam rangka untuk mengeksplorasi serta mengelolanya lalu kemudian sepenuhnya diberikan untuk memenuhi kebutuhan-kebetuhan rakyat. Jadi haram hukumnya memberikan harta milik umum ini kepada pribadi, swasta bahkan asing.

Semua itu hanya bisa dilaksanakan ketika Syariah Islam diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan manusia. Syariah Islam mesti menjadi konstitusi negara dalam rangka mensejahterakan seluruh umat manusia yang bernaung di dalamnya. Baik mereka muslim ataupun non muslim. Dan Syariah hanya bisa diterapkan secara menyeluruh dalam sebuah institusi Negara bernama Khilafah Islamiyah. Tanpa Khilafah Islamiyah, Syariah hanya berupa konsep-konsep semata. Sejatinya perjuangan kita terus mengarah kepada Syariah dan Khilafah.

Kesadaran kita akan hal ini merupakan bentuk perjuangan kita untuk beranjak dari keterpurukan umat manusia hari ini menuju pada perubahan. Perubahan dari bentuk penyembahan kita kepada sesama manusia menuju penyembahan kepada Allah SWT. Wallahu ’alam bi ash showab.

HAM DAN DEMOKRASI, “SENJATA KUNO” MILIK BARAT

HAM DAN DEMOKRASI, “SENJATA KUNO” MILIK BARAT
(Muhammad Rahmani, Aktivis GEMA Pembebasan SULSEL)

Dua pakem kehidupan umat manusia saat ini. HAM dan Demokrasi adalah alat penjajahan barat terhadap dunia terutama negeri-negeri muslim. Mereka terus mengkampanyekannya di seluruh dunia. Ini sebagai bentuk usaha mereka mempertahankan nilai-nilai yang mereka anggap luhur. Padahal sejatinya ide ini begitu ”kolot” dan telah usang. Demokrasi lahir di masa Aristoteles hidup. Jauh sebelum peradaban Islam lahir. Namun banyak yang malah menganggap peradaban Islam adalah peradaban batu. Kalau begini ceritanya, peradaban mana yang termasuk peradaban batu?

Demokrasi memberikan kebebasan dalam berbagai sisi kehidupan kepada tiap-tiap manusia. Dengan dasar bahwa kebebasan itu adalah hak asasi manusia (HAM) sejak lahir. Maka kebebasan kemudian menjadi pola hidup masyarakat dengan HAM sebagai pelindungnya. Dibuatlah aturan-aturan kehidupan berdasarkan nilai-nilai kebebasan dan hukum-hukum yang menindak pelanggaran HAM. Dengan nilai-nilai kebebasan itu, manusiapun seenaknya menentukan jalan kehidupan yang lahir dari akalnya yang terbatas.

Namun yang terjadi hari ini adalah aturan-aturan kehidupan yang mereka buat senantiasa tumpang tindih. Hal itu adalah keniscayaan dalam demokrasi. Karena manusia memiliki beragam corak kehidupan serta kepentingan-kepentingannya. Pasti sulit (bahkan utopis) bila ingin mengakomodir semuanya. Pada akhirnya mencari jalan tengah lalu lahirlah pasal-pasal karet.

Sejatinya pula bahwa bukan rakyat yang berdaulat penuh, tetapi wakil rakyat. Atas nama rakyat mereka melegalkan segala undang-undang yang tidak berpihak kepada rakyat. Ya, tidak berpihak kepada rakyat karena mana mungkin mereka bisa mengakomodir seluruh kepentingan rakyat. Omong kosong bila jargon-jargon itu mereka realisasikan. Lalu siapa rakyat yang mereka maksud? Rakyat dalam hal ini anak, istri, keluarga terdekat. Dan bila ada yang mampu menunjang kehidupan mereka (wakil rakyat). Maka aspirasi mereka (baca: kapitalis) itulah yang diakomodir. Setali tiga uang dengan partai Islam di parlemen. Mereka bergerak bukan atas nama rakyat, tapi atas nama umat. Umat yang dimaksud adalah istri, anak, dan keluarga terdekat serta orang-orang yang mampu membiayai hidup mereka.

Lalu mengapa kita masih mempertahankan ide-ide ini. Padahal Islam memiliki aturan-aturan kehidupan yang sempurna. Dan jauh lebih modern ketimbang demokrasi. Bahkan dibawa oleh manusia terbaik, Muhammad SAW. Hanya orang-orang yang ”tidak waras” saja yang masih menginginkan demokrasi sebagai sistem kehidupannya. Begitu pula adanya HAM. Hanya sebagai alat penindasan barat terhadap umat Islam. Lihat bagaimana saudara-saudari kita di Palestina, Irak dan Afghanistan. Hanya karena alasan mencari teroris dan melindungi keamanan Israel, sebagian besar mereka dibantai. Begitu pula ketika saudari-saudari kita di Prancis yang hanya ingin melaksanakan kewajibannya (pemakaian burqa dan niqab) sebagai seorang muslim. Lalu kemana HAM saat itu? Namun ketika penyerangan itu mengarah kepada mereka (orang barat). Mereka getol memperjuangkan HAM.

Tidak ada solusi selain kita kembali kepada khittah kita sebagai seorang muslim sejati. Yakni mengambil Islam secara totalitas (dengan menegakkan Syariah dan Khilafah). Dan mencampakkan ide-ide kufur dari barat.

Hikmah dari Kemacetan

Tadi sempat melintas di perempatan jalan antara mau keperumahan baruga antang-kuburan cina-jl inspeksi PAM dan dr leimena…sempat agak macet. dan memang area itu area macet. (mungkin semua tahu itu apalagi yang sering lewat disitu). biasanya ada jasa pengatur jalan. orang-orangnya dari masyarakat disitu juga. inilah masyarakat yang berusaha membantu tugasnya polisi. niat mereka baik, biar jalan itu terurai dengan lancar. karena kalau mereka tidak ada, jarang ada yang mau mengalah. kalau sudah begitu, macetnya bisa bukan main parah. jasa pengatur jalan itu seakan memberikan solusi untuk mengurai kemacetan. namun mulai bergeser sedikiti niat mereka yang hanya ingin mengurai kemacetan ke arah mndapatkan pendapatan. awalnya hanya orang-orang yang arahnya dari baruga (tahulah perumahan baruga, perumahan orang elit) mau cepat keluar dari kemacetan. supaya lancar, sedikit tip buat jasa pengatur jalan biar cepat di kasih kesempatan untuk menembus kemacetan. padahal jalur di baruga itu bukan arus utama. arah dari dr leimena menuju kuburan cina itulah arus utama. beberapa masyarakat yang sempat bercerita ke saya mengatakan, para jasa pengatur jalan lebih mengutamakan yang dari baruga ketimbang arus utama. tentu karena tip yang didapatkan. akhirnya kemacetan terurai hanya bagi segelintir orang saja yang ada di baruga.

terpikir akan kondisi Indonesia saat ini. para jasa pengatur jalan itu ibarat mereka yang ada di parlemen sana. keberadaan mereka sebenarnya dalam rangka memberikan yang terbaik kepada rakyat pada umumnya. namun itu kemudian bergeser seiring dengan adanya kepentingan-kepentingan (utamanya uang). tentu itu menggiurkan bagi mereka. maka kesejahteraan yang lahir dalam bentuk aturan yang dikeluarkan hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

maka dari itu, kembalikan sepenuhnya setipa tanggung jawab pengaturan itu pada petugas sesungguhnya. karena Dialah yang lebih tahu bagaimana cara mengurai masalah yang terjadi.

Semoga bermanfaat.

Resensi

RESENSI
(NOVEL ‘KEMI CINTA KEBEBASAN YANG TERSESAT’ KARYA DR. ADIAN HUSAINI)
Oleh : Muhammad Rahmani

Penulis mencoba mengantarkan kita bagaimana cara untuk menghadapi “serbuan” pemikiran ala orang-orang liberal. Buku ini memuat begitu banyak argumen-argumen jitu untuk menjatuhkan setiap statement nyeleneh pengagum pluralisme. Dan pada umumnya argumen-argumen seperti yang termuat dalam buku inilah cara kaum liberalis mengkooptasi pemikiran-pemikiran mereka kepada umat Islam.

Selain itu penulis juga memperlihatkan bagaimana wajah pesantren seharusnya menyikapi maraknya model-model pemurtadan gaya baru. Tokoh sepeti Rahmat dan Kyiai Rois yang penuh dengan wawasan kepesantrenan juga tidak luput dengan pengkajian-pengkajian ide-ide kontemporer. Selain itu mereka tidak menutup diri akan kondisi dunia luar namun tetap menjaga koridor kebenaran Islam.

Yang unik dari buku ini, penulis menempatkan sosok Rahmat yang terlihat sempurna sebagai anak muda yang cerdas, enerjik, dan keberanian yang tidak terduga-duga lalu makin disempurnakan dengan parasnya yang menarik. Sosoknya itulah yang sebenarnya memberikan keunikan karena lebih banyak mendominasi tokoh utamanya yakni Kemi. Ketika kita membacanya, terasa bahwa Rahmatlah tokoh yang paling greget yang pantas disoroti. Padahal Kemilah aktor utama bila melihat judul buku yang dicantumkan. Seorang pemuda pesantren yang kecantol dengan ide-ide ala kaum liberal. Hingga di akhir cerita ia harus menerima keadaan dengan menghadapi kondisi cacat otak dan mental.

Keunikannya makin lengkap dengan bumbu kisah romantis antara Siti dan Rahmat yang dikemas apik oleh penulis. Bahkan kita tidak akan menyangka bahwa ending buku ini adalah perpisahan antara Siti dan Rahmat yang sangat indah. Padahal di awal kita larut dalam cerita yang bernuansa sedikit heroik dan suasana intelektual, akibat diskusi yang menantang oleh Rahmat dengan lawan-lawan diskusinya.
KEMI Novel karya Dr Adian Husaini sepantasnya menjadi referensi buat kaum intelektual muslim dalam menghadapi beragam tindak tanduk kaum liberal. Serta membangkitkan kemauan kita untuk terus mengejar ilmu sekuat tenaga.

BEBASKAN PAPUA DARI FREEPORT

Gejolak Papua hingga hari ini belum juga usai. Suasana kehidupan yang mencekam masih dirasakan setiap masyarakat yang hidup disana. Suatu waktu nyawa mereka bisa melayang begitu saja. Pengamanan mesti ditingkatkan untuk menjaga stabilitas Papua. Namun miris, aparat keamanan malah menerima “tip” dari Freeport yang selama ini bergolak dengan para pekerja yang notabene rakyat Papua juga. Bahkan di beberapa media, Kapolri membenarkan adanya uang dari Freeport. Kekhawatiran kita aparat keamanan tidak lagi bertujuan mengamankan kondisi Papua tetapi mengamankan Freeport. Dan ini berarti aparat keamanan tidak lagi menjadi pihak yang menengahi masalah antara rakyat Papua dan Freeport. Lalu berharap dengan siapa lagi rakyat Papua? Dialog yang dijalin oleh Freeport dengan rakyat Papua, masih saja menemui jalan buntu. Freeport belum mau merealisasikan tuntutan para pekerja yang menginginkan kesetaraan upah dengan pekerja-pekerja Freeport yang lain di luar Indonesia. Tuntutan ini terlihat wajar karena produksi emas di Papua dibanding dengan apa yang diusahakan Freeport di negara lain sangat berbeda. Papua memberikan emas yang berlimpah kepada Freeport dengan segala konsekuensi pekerjaan mereka. Peran pemerintahpun masih dalam bentuk pengamanan dan dialog. Dalam bedah editorial Media Indonesia, Presiden SBY malah memerintahkan Menkopolhukam Joko Suyanto untuk membawa masalah Papua ke Amnesti Internasional. Belum ada kebijakan yang signifikan dalam mengatasi masalah Papua. Pemerintah pun kelihatan bergerak hati-hati dalam menengahi masalah rakyat Papua dengan Freeport. Kita ketahui bersama, Freeport merupakan perusahaan tambang yang dimiliki oleh Amerika Serikat (AS). Selama ini seluruh kekayaan alam Papua yang dikeruk atas nama kerjasama bilateral antara Indonesia dan AS dibawa ke negeri Paman Sam tersebut. Namun di sisi lain kita malah melihat, kondisi kemiskinan rakyat Papua yang sudah sejak lama mendera mereka. Dimana kedaulatan negeri ini? Dimana keberanian pemerintah dalam menjaga rakyatnya? Masalah utama yang hadir di Papua adalah keberadaan Freeport disana. Dan lihat apa yang terjadi, kita hanya menikmati sedikit dari kekayaan alam kita. Padahal emas disana adalah milik Indonesia yang bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat Papua. Namun pemerintah hingga hari ini tak berani melakukan renegosiasi atas kepemilikan emas di Papua. Atasnama menjaga persahabatan dengan AS-lah, menjaga stabilitas ekonomi global-lah, atau iklim investasi di negeri ini. Bila pemerintah masih tetap keukeh dengan pendiriannya untuk mempertahankan Freeport, maka masalah Papua tidak akan terselesaikan. Kasihan negeri ini, kasihan saudara-saudari kita di Papua. Mereka berharap aparat keamanan yang juga masih saudara mereka untuk berpihak dan membantu mereka, malah menerima ”suap” dari Freeport. Pemerintah yang menjadi kekuatan terakhir rakyat Papua pun lebih memilih untuk mengutamakan kepentingan AS di Papua. Lalu kemana Nasionalisme yang digembar-gemborkan ketika Malaysia ”mengganggu” perbatasan Indonesia? Kita melihat di layar kaca, manajemen Freeport yang juga orang Indonesia (dalam hal ini mewakili kepentingan Freeport) dihadap-hadapkan dengan sesamanya Indonesia. Begitu juga aparat keamanan dan pemerintah. Sekali lagi nasionalisme hanyalah riak-riak situasional di negeri ini. Harga diri bangsa diinjak-injak oleh Freeport. Dengan gamblang membayar aparat keamanan Indonesia, menguras harta kekayaan negeri ini, mempermainkan kedaulatan Indonesia, serta menganggap remeh Indonesia dengan menghargai pekerja dengan harga di bawah upah standar. Tidak ada solusi lain untuk mengatasi masalah Papua selain melakukan renegosiasi bahkan menasionalisasi sumber daya alam yang sekarang dipegang oleh Freeport. Rakyat Indonesia menunggu keberanian seluruh elemen (terutama pemerintah) yang berperan dalam mengatur stabilitas nasional untuk menyikapi masalah Freeport dan rakyat Papua. Yakni berpihakan kepada rakyat Papua, dan membebaskan belenggu Freeport dari Indonesia. Kita tunggu saja.

  • Revenge

    Then came the Khilafah 'ala al-Nubuwwah Minhaaj (Caliphate that runs on top of prophethood). " [HR. Imam Ahmad]
  • Desember 2018
    S S R K J S M
    « Mar    
     12
    3456789
    10111213141516
    17181920212223
    24252627282930
    31  
  • Ar Royah

    Ar Royah

    Khilafah

  • Khilafah

  • Igz4-Facebook